Kegiatan Praktik Pengabdian Masyarakat (P2M)
Santri Akhir KMI Darul Mukhlisin

Kegiatan demi kegiatan telah dilalui dan diselesaikan oleh Santri Akhir KMI Darul Mukhlisin hingga pada akhirnya dapat kembali menjalankan aktivitasnya seperti semula. Pada 24 April 2025 Santri Akhir KMI memulai kegiatan “P2M” atau Praktik Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan di sekitar lingkungan pondok. Kegiatan berlangsung dengan pembukaan yang dibuka secara resmi oleh pimpinan Ponpes Modern Darul Mukhlisin Al-Ustadz Dwi Saputro, S.Pd.I. dilanjut dengan pengarahan oleh ketua acara P2M Al-Ustadz Ahmad Saepudin, S.Pd. Kegiatan Praktik Pengabdian Masyarakat tahun ini bertemakan “Berkebun Dan Bertani”. Dalam penyelenggaraannya, dibagi beberapa kelompok untuk menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. Semua dibagi dalam lima kelompok Putra-Putri, setiap kelompok memiliki tugas yang harus diselesaikan sebelum lanjut ke P2M diluar pondok.

Kegiatan P2M atau Praktik Pengabdian Masyarakat Santri Akhir Darul Mukhlisin diselenggarakan dalam dua tahap gelombang kegiatan: Pertama, melakukan pekerjaan disekitar pondok dalam jangka waktu sekitar satu bulan dengan berkebun dan bercocok tanam berbagai bumbu dapur seperti: kunyit, jahe, cabai, tanaman sereh, kencur dan juga menanam pohon alpukat. Kedua, kegiatan ini akan dilanjutkan dengan praktik pengabdian lapangan dilingkungan masyarakat yang pada tahun ini akan diselenggarakan di Kp. Ciloa, Desa Wangun jaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Bandung Barat yang bertepatan pada tanggal 14 – 18 Mei 2025.
Praktik Pengabdian Masyarakat Diluar Pondok
P2M diluar pondok dimulai pada hari Rabu tanggal 14 Mei 2025. Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan yang dilaksanakan di GOR Bulu Tangkis Desa Wangun Jaya. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sambutan oleh pimpinan dan Sekretaris Desa wangun Jaya Bapak Nana Sumarna serta dihadiri oleh beberapa masyarakat setempat. “ Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan santri-santri dapat merasakan hidup dan mengabdi dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Santri akan mendapatkan banyak nilai-nilai dan norma dalam menjalankan praktik kerja nyata dilapangan” Ujar Bapak Nana Sumarna selaku Sekertaris Desa Wangun Jaya.

Setiap kelompok yang telah dibagikan oleh panitia akan tinggal di tempat yang berbeda-beda dan akan melakukan pekerjaan yang bermacam-macam. Kelompok Satu tinggal kediaman Bpk. Asep Basuki dengan pekerjaannya yaitu berkebun dan menggarap sawah, Kelompok Dua tinggal dikediaman Bpk. Dodo Daswara dengan pekerjaannya yaitu berdagang dan mengurus kolam ikan, Kelompok Tiga dan Kelompok Lima tinggal dalam satu rumah yaitu di kediaman Bpk. Asep Saepul Palah dengan pekerjaannya yaitu mengajar di MI Al-Ishlah dan juga bekerja membuat Sale Pisang. Adapun Kelompok Empat bertempat tinggal di kediaman Bpk. Yudi dengan bekerja sebagai Pramusaji di Kedai Bakso Oyag Seuhah.
Santri Dalam Stratifikasi Sosial
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pesantren merupakan miniatur kehidupan bagi semua santri didalamnya. Kehidupan dipesantren menjadi simulasi mereka sebelum diterjunkan kepada kehidupan masyarakat. Sama halnya dalam kegiatan ini, para santri akan dihadapkan dengan realita kehidupan didalam bermasyarakat. Mereka akan menemukan peranan diri mereka dalam mengabdikan seluruh potensi mereka baik secara fisik, materi dan lain-lain. Salah satu falsafah pesantren “Jangan Pernah Menjadi Sampah Masyarakat”, membuat para santri mengerti akan urgensi dari kegiatan praktik pengabdian masyarakat ini dan berperan aktif didalamnya.

Dari kegiatan ini mereka akan belajar dan mencari jati diri mereka, sehingga kelak ketika dihadapkan dengan kegiatan bermasyarakat ataupun kegiatan sosial lainnya mereka tidak lagi canggung dan takut untuk bertindak andil dalam pelaksanaanya. Dari P2M pula mereka akan belajar tentang arti tolong menolong dan mempererat tali ukhuwah islamiyah serta bergotong royong antar sesama saudara. “No Man Is An Island”, manusia tidak akan dapat hidup sendiri. Maka dari sinilah santri belajar mengenai hidup bersama dalam satu kerukunan dan kesejahteraan. Mereka akan menjadi komponen masyarakat yang bermoral dan bersikap sesuai norma sosial.
Dengan demikian, Pesantren telah menjadikan para santri agar siap menghadapi tantangan yang ada dalam hidup bermasyarakat. Kini orangtua mereka tidak perlu khawatir akan seperti apa perkembangan anak mereka dimasa mendatang. Kelak para santri akan menjadi subjek masyarakat yang paling berpartisipasi dalam memajukan akomodasi daerah tempat mereka tinggal. Dimanapun dan kapanpun mereka tinggal, mereka akan selalu mengaplikasikan nilai-nilai yang sesuai dengan norma dan hukum yang ada.











