KAJIAN PAGI DMU
Entah datangnya dari mana, tiba-tiba teringat kata-kata Ibnu Khaldun tentang adab:
“ Puncak dari ketinggian adab adalah saat engkau diam dan mendengarkan seseorang yang berbicara kepadamu, tentang sesuatu yang engkau ketahui dengan baik, sementara dia tidak menguasainya .”
Kalimat itu terasa sederhana, tapi menghujam dalam. Ia seperti menampar sisi diri kita yang selama ini tak sadar sering:
merasa paling tahu,
paling benar,
paling pantas didengar.
Dalam hidup, seringkali kita diuji bukan oleh hal besar seperti harta, jabatan, atau penderitaan tetapi oleh hal kecil bernama kesombongan halus . Ia tidak tampak, tapi menyusup pelan dalam hati yang merasa lebih pandai, lebih berpengalaman, atau lebih berilmu dari orang lain.
Betapa sering lidah ini gatal untuk memotong pembicaraan seseorang hanya karena kita tahu ia keliru. Betapa sering hati ini ingin membuktikan bahwa kita lebih tahu, lebih cepat, lebih benar. Padahal, terkadang, diam adalah bentuk kemuliaan yang paling tinggi.
Kualitas diri kita bukan hanya diukur dari banyaknya ilmu, tapi dari seberapa lembut kita memperlakukan orang lain. Orang berilmu bisa menjelaskan, tapi hanya orang beradab yang mampu menahan diri. Sebab mendengarkan, ketika kita sebenarnya lebih tahu, bukan perkara mudah, itu adalah : latihan jiwa, latihan sabar, latihan menundukkan ego yang haus pengakuan.
Ada waktu untuk berbicara, dan ada waktu untuk diam. Tapi tak semua orang mampu memahami bahwa diam pun bisa menjadi bentuk kasih sayang, kasih sayang kepada orang yang sedang berusaha memahami dunia dengan caranya sendiri. Mungkin di situlah letak kebesaran sejati manusia : bukan pada tingginya ilmu, tapi pada rendah hatinya.
Sebab ilmu tanpa adab hanyalah cahaya tanpa arah, sementara adab tanpa ilmu tetap menjadi cahaya yang menuntun jiwa.
Dan ketika kita mampu menahan diri untuk tidak menunjukkan kehebatan, saat itulah sebenarnya kita sedang menunjukkan keagungan hati. Karena sebagaimana pepatah lama berkata :
“ Bunga tidak berbicara untuk menjelaskan keindahannya, ia cukup mekar, dan dunia mengaguminya .”